Bukan Sekadar Mengajar, tapi Menjadi Pelita: Kisah Seorang Guru Kristen yang Hati dan Dedikasinya Bersinar di MTsN 2 Kota Banjar

15 Jun 2026, 09:56:19 WIB Pendidikan
Bukan Sekadar Mengajar, tapi Menjadi Pelita: Kisah Seorang Guru Kristen yang Hati dan Dedikasinya Bersinar di MTsN 2 Kota Banjar

Langensari (KEMENAG) Di tengah gemuruh isu intoleransi di beberapa tempat, MTsN 2 Kota Banjar justru menghadirkan cerita sebaliknya. Sebuah kisah inspiratif datang dari seorang guru beragama Kristen yang dengan tulus mengabdikan dirinya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai guru TIK di madrasah yang notabene berada di lingkungan Kementerian Agama.

Siapa sangka, harmoni justru tumbuh subur di tempat yang mungkin dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Bagi Titin BR Sagala, kelahiran Bahtera Makmur, Riau, madrasah bukanlah medan perbedaan, melainkan ladang kebersamaan. Sejak awal bertugas, ia tak pernah merasakan jarak. Kepala madrasah, rekan sejawat, tenaga kependidikan, hingga siswa-siswinya menyambutnya seperti keluarga sendiri.

“Yang saya rasakan bukan perbedaan, tetapi kebersamaan. Di sini kami dipersatukan oleh tujuan yang sama, yaitu mendidik dan membimbing siswa menjadi generasi yang berkarakter, berprestasi, dan menghargai sesama,” ujarnya dengan mata berbinar.

Baca Lainnya :

Budaya saling menghormati dan menjunjung tinggi moderasi beragama telah menjadi oksigen bagi madrasah ini. Suasana kerja yang hangat dan penuh kekeluargaan tercipta setiap hari. Apalagi, MTsN 2 Kota Banjar dikenal dengan program unggulan 3S (Senyum, Salam, Sapa) yang semakin merekatkan hati, tanpa memandang latar belakang agama atau budaya.

Kepala MTsN 2 Banjar, Hj. Dida Hasanah, M.Pd., dengan tegas menyatakan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan penghalang.

“Madrasah adalah rumah bersama. Siapa pun yang mengabdikan diri untuk pendidikan dan memiliki komitmen membangun generasi bangsa, akan mendapatkan tempat yang sama untuk berkarya dan berprestasi. Profesionalisme, integritas, dan dedikasi adalah ukuran utamanya,” ungkap Dida penuh semangat.

Lebih dari itu, kehadiran guru Kristen di lingkungan madrasah menjadi laboratorium nyata bagi para siswa untuk belajar toleransi. “Melalui interaksi sehari-hari, siswa belajar bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk bekerja sama dan saling mendukung. Mereka melihat langsung, bahwa perbedaan itu indah,” tambah Dida.

Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan moderasi beragama tidak hanya sekadar teori. Ia hidup, tumbuh, dan bersemi di ruang-ruang kelas MTsN 2 Kota Banjar. Madrasah bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter tentang bagaimana hidup berdampingan dalam keberagaman.

Dari Langensari, pesan persaudaraan terus ditebarkan. Bahwa pendidikan yang berkualitas lahir dari ketulusan dan semangat melayani. Bahwa menjadi pelita di tengah keberagaman adalah tindakan nyata, bukan sekadar mimpi.


Kontributor: Rohmat/Aep




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment