Di Balik Keterbatasan, Guru Disabilitas Netra MIN 1 Kota Banjar Buktikan Dedikasi Tanpa Batas

15 Jun 2026, 11:46:06 WIB Pendidikan
Di Balik Keterbatasan, Guru Disabilitas Netra MIN 1 Kota Banjar Buktikan Dedikasi Tanpa Batas

Hegarsari (KEMENAG) Sebuah cahaya terang menerangi ruang kelas MIN 1 Kota Banjar. Bukan hanya dari lampu atau sinar matahari pagi, melainkan dari semangat membara seorang aparatur sipil negara (ASN) yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya dan mencerdaskan anak bangsa.


Di tengah hiruk-pikuk aktivitas madrasah, terdapat sebuah kisah inspiratif yang mengalir deras. Seorang guru dengan disabilitas netra (tunanetra) terlihat lincah berinteraksi dengan para siswa, membimbing mereka dengan metode khusus, serta menunjukkan bahwa tekad yang kuat mampu mengalahkan segala rintangan.

Baca Lainnya :


Ia adalah Lulu Imas Fufah, pengampu mata pelajaran Guru Kelas di MIN 1 Kota Banjar. Dengan berbekal laptop yang dilengkapi screen reader perangkat lunak pembaca layar dan ingatan yang tajam, Lulu Imas Fufah mampu menyampaikan materi pelajaran dengan jelas dan penuh antusiasme .


"Keterbatasan ini justru menjadi motivasi bagi saya untuk terus berkarya. Saya ingin menunjukkan kepada siswa bahwa tidak ada kata tidak bisa jika kita mau berusaha. Saya mendengar, saya hafal, dan saya transfer ilmu itu kepada anak-anak," ujar Lulu Imas Fufah dengan penuh haru saat ditemui di ruang guru, Senin, (15/6). 


Plt. Kepala MIN 1 Kota Banjar, Marsimin, mengaku bangga memiliki sosok guru dengan dedikasi tinggi seperti Lulu Imas Fufah. Meskipun memiliki kebutuhan khusus, beliau mampu beradaptasi dengan cepat dan menggunakan metode pembelajaran yang kreatif, seperti lebih mengandalkan media audio dan diskusi lisan yang interaktif.


"Dia adalah inspirasi bagi kami semua. Awalnya mungkin ada kekhawatiran, namun faktanya Dia mampu mengelola kelas dengan sangat baik. Para siswa justru sangat antusias dan memiliki empati serta rasa hormat yang tinggi. Ini bukti bahwa madrasah inklusif bukan hanya wacana," tegas Kepala Madrasah.


Salah satu siswi, Dina Lailatul Haniyah, mengaku awalnya kaget namun kini sangat mengagumi gurunya. "Ibu Lulu Imas Fufah mengajarnya asyik. Beliau hafal nama kita semua hanya dari suara. Kami jadi lebih semangat belajar karena melihat perjuangan beliau," ungkapnya polos.


Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banjar, H. Ahmad Fikri Firdaus mengatakan, kisah Lulu Imas Fufah ini menjadi bukti nyata komitmen Kementerian Agama dalam mendorong keterwakilan penyandang disabilitas di lingkungan ASN serta mewujudkan madrasah yang ramah dan inklusif bagi semua. 

"Dedikasinya di MIN 1 Kota Banjar menjadi teladan bahwa nilai seorang guru diukur dari ketulusan hatinya, bukan sempurnanya indra penglihatan." Kata A Fikri. 


Kontributor : Dudi/Aep




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment