- KUA Kecamatan Banjar Laksanakan Supervisi Administrasi Nikah Rujuk Triwulan II dan Pembinaan Pegawai
- MATAMUDA MAN Kota Banjar: Mengenalkan Budaya Madrasah yang Unggul dalam Karakter dan Keterampilan di Era Digital.
- MATAMUDA (Masa Taaruf Murid Madrasah) Tahun Ajaran 2026/2027 di MTsN 1 Kota Banjar Tanamkan Nilai Keislaman, Disiplin, dan Cinta Lingkungan Sejak Hari Pertama
- Yayasan Pendidikan Islam Darul Ulum Gelar Upacara Pembukaan MATAMUDA Tahun Ajaran 2026/2027
- Kepala MIN 3 Kota Banjar Sematkan Atribut MATAMUDA kepada Murid Baru Tahun Ajaran 2026/2027
- Pra MATAMUDA MAN Kota Banjar sebagai Bentuk Kesungguhan Menyambut Murid Baru
- Menyambut 76 Bintang Masa Depan, MIN 2 Kota Banjar Resmi Buka MATAMUDA 2026/2027
- MATAMUDA MTsN 2 Kota Banjar Resmi Dibuka, Kepala Madrasah Ajak 289 Murid Baru Terapkan 5S dan Raih Prestasi
- MTsN 3 Banjar Gelar Upacara Pembukaan MATAMUDA 2026/2027
- Kesan Pertama yang Hangat Sambut Calon Murid Baru MAN Kota Banjar
Jaga Kualitas Ujian, Kepala Kankemenag Tegaskan Lima Elemen Penting Evaluasi Madrasah

Pataruman (KEMENAG) Dalam upaya menjaga mutu pendidikan madrasah, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag), H. Ahmad Fikri Firdaus menegaskan pentingnya kualitas penyusunan kisi-kisi dan naskah soal ujian madrasah. Hal tersebut disampaikan saat membuka kegiatan workshop Bimtek Penyusunan Kisi-kisi dan Naskah Soal Ujian Madrasah yang diselenggaran Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Banjar di Aula RM. Saung Oemah, Jum’at (13/2).
Menurutnya, ujian madrasah bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan instrumen strategis untuk memastikan ketercapaian kompetensi peserta didik sesuai standar nasional dan karakter khas madrasah. Ia menjelaskan lima elemen penting dalam menjaga kualitas ujian madrasah.
Lima elemen tersebut adalah pertama Evaluasi sebagai Cermin Mutu Pembelajaran. Kepala Kankemenag menekankan bahwa evaluasi bukan hanya alat untuk mengukur hasil belajar siswa, tetapi juga menjadi cermin kualitas proses pembelajaran yang telah berlangsung. Kisi-kisi dan naskah soal yang disusun secara sistematis mencerminkan kedalaman kurikulum, ketepatan indikator, serta integritas akademik guru.
Baca Lainnya :
- Penguatan Regulasi Kepenyuluhan: Langkah Strategis Tingkatkan Mutu Bimbingan Masyarakat0
- Kakankemenag Kota Banjar Tegaskan Dana BOS Bersifat Kolektif Kolegial0
- Kemenag Terima Kunjungan Wakil Wali Kota Banjar, Bahas Sinergi Pembangunan Bidang Agama dan Pendidikan0
- Penyuluh Sambut Bulan Suci, GDI Langensari Gelar Pengajian dan Tahlil Akbar0
- Tanamkan Jiwa Kepemimpinan dan Integritas, MTs Negeri 1 Kota Banjar Gelar Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS)0
“Jika penyusunan dilakukan dengan serius dan terarah, maka hasil evaluasinya akan adil, objektif, dan bermakna. Ujian madrasah harus dipahami sebagai bagian penting dalam menjamin mutu pendidikan, bukan sekadar formalitas administrative, ,” ujar A. Fikri.
Kedua, Profesionalisme Guru. Ia juga menyoroti peran strategis guru sebagai perancang pengalaman belajar, termasuk dalam merancang instrumen evaluasi. Penyusunan kisi-kisi dan soal, lanjutnya, membutuhkan ketelitian, objektivitas, serta pemahaman terhadap taksonomi pembelajaran.
“Soal yang baik tidak hanya menguji kemampuan mengingat, tetapi juga mendorong analisis, sintesis, dan pemahaman kontekstual,” tegasnya.
Ketiaga Integritas dan Akuntabilitas Madrasah. Menurut Kepala Kankemenag kredibilitas madrasah sangat ditentukan oleh integritas dalam pelaksanaan ujian. Proses penyusunan soal harus transparan, terukur, dan sesuai prosedur yang berlaku. Kisi-kisi menjadi pedoman penting agar soal tidak menyimpang dari kompetensi yang telah ditargetkan.
“Naskah soal yang terstandar menunjukkan komitmen kita terhadap keadilan akademik,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa elemen yang keempat yaitu sinergi kurikulum dan evaluasi yang merupakan dua sisi yang tidak terpisahkan. Kurikulum memberikan arah pembelajaran, sementara evaluasi memastikan arah tersebut tercapai secara optimal.
“Ujian madrasah bukan akhir dari proses, melainkan umpan balik konstruktif untuk peningkatan mutu pendidikan berikutnya,” jelasnya.
Sementara eleman yang kelima adalah Membangun Budaya Mutu di Madarasah. Ia menegaskan bahwa workshop ini merupakan bagian dari pembangunan budaya mutu di madrasah. Budaya mutu tidak lahir dari satu kegiatan, melainkan dari konsistensi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.
“Ketika guru terbiasa menyusun soal secara sistematis dan berbasis indikator yang jelas, standar akademik madrasah akan terjaga dengan baik. Langkah ini dinilai sebagai upaya konkret menjaga reputasi madrasah sebagai lembaga pendidikan yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing.” Pungkas A. Fikri.
Kegiatan workshop diikuti 40 orang peserta terdiri dari seluruh karyawan dan tenaga pendidik dilingkungan MAN Kota Banjar.
Kontributor : Aep S.


.png)





.png)
.png)


.png)