- MIN 2 Kota Banjar Gelar BIAS 2026: Vaksin Campak untuk Kelas I dan HPV untuk Kelas V
- MIN 2 Kota Banjar Peringati Maulid Nabi, Kepala Madrasah Ajak Teladani Akhlak Rasulullah
- Tampil Percaya Diri di Panggung Porseni, Repa Margareta Bawa Pesan Pentingnya Kejujuran dan Amanah untuk Generasi Muda
- Wali Kota Banjar Lepas 169 Peserta Porseni: Titip Jaga Kesehatan dan Yakinlah pada Potensi Diri
- Kepala Kemenag Kota Banjar: Porseni Momentum Lahirkan Generasi Unggul dan Madrasah Berdampak
- Yayasan Pendidikan Islam Darul Ulum Gelar Upacara Peringatan Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026
- Membanggakan! Siswa MIN 3 Kota Banjar Rexa Tri Sundara Setia Gumelar Raih Juara 1 Liga TopSkor National Championship 2026
- MIN 2 Kota Banjar Gelar Story Telling for Character Building bersama KNRP Jabar, Tanamkan Nilai Kepedulian Sejak Dini
- Kobaran Api Unggun Hangatkan Malam Puncak LT I Pangkalan MIN 2 Kota Banjar
- Semarakkan HUT RI ke-81, IGRA Kota Banjar Ikuti Pawai Alegoris 2026
A Fikri : RA Titik Mula Peradaban, Transformasi Peran Strategis Jadi Fondasi Pendidikan Keagamaan Usia Dini

Karangpucung (KEMENAG) Raudlatul Athfal bukan
sekadar PAUD biasa. RA adalah titik mula peradaban tempat benih iman, akal, dan
rasa ditanam dalam satu kesatuan utuh. Penegasan itu disampaikan Kepala Kantor
Kementerian Agama Kota Banjar, H. Ahmad Fikri Firdaus, SE, MM saat memberikan
pembinaan kepada Ikatan Guru Raudlatul Athfal (IGRA), Rabu (22/4) di RA Darul
Ulum.
Di hadapan para guru RA se-Kota Banjar, A Fikri
menyebut RA harus direposisi sebagai fondasi strategis dalam sistem pendidikan
nasional, khususnya rumpun pendidikan Islam di bawah Kemenag RI. “Kita tidak
sekadar mengajar anak-anak usia dini. Kita sedang membentuk fondasi kesadaran
pertama manusia tentang Tuhan, tentang diri, dan tentang dunia,” ujarnya.
Menurut A Fikri, kekuatan RA terletak pada
pendekatan pembelajaran berbasis bermain yang sarat nilai. Setiap aktivitas
bermain harus mengandung muatan edukatif, spiritual, dan sosial. “Kurikulum RA
tidak boleh berhenti pada aspek kognitif, tetapi harus menghidupkan dimensi
iman, akhlak, dan pembiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari anak,” tegasnya.
Baca Lainnya :
- Kakankemenag Kota Banjar: PMII Harus Hadir dengan Aksi Nyata Kawal Pembangunan Daerah0
- Siswi MI Banjar 2 Raih Juara 1 di Ajang Internasional Bersama Akademi Persib Putri0
- LCC 4 Pilar MPR RI Tingkat Provinsi Jawa Barat, Siswa MAN Wakili Kota Banjar0
- Jaga Kualitas Ujian, Kepala Kankemenag Tegaskan Lima Elemen Penting Evaluasi Madrasah0
- Penguatan Regulasi Kepenyuluhan: Langkah Strategis Tingkatkan Mutu Bimbingan Masyarakat0
A Fikri juga menekankan penguatan peran IGRA
sebagai motor penggerak mutu guru RA. IGRA didorong menjadi ruang kolaborasi,
peningkatan kompetensi, dan pertukaran praktik baik, bukan sekadar wadah
formal.Selain itu, RA tidak bisa berdiri sendiri. Pendidikan anak usia dini
membutuhkan keterlibatan aktif orang tua dan lingkungan sosial. “Guru RA perlu
membangun komunikasi intens dengan keluarga, sehingga nilai-nilai yang
diajarkan di RA dapat diperkuat di rumah,” tambahnya.
Perubahan zaman menuntut RA untuk adaptif dan
inovatif. Guru perlu memanfaatkan teknologi secara bijak sebagai media pembelajaran
yang menarik dan relevan. Meski begitu, A Fikri mengingatkan esensi RA tetap
harus dijaga: menghadirkan ruang belajar yang penuh kasih sayang, aman, dan
menyenangkan bagi tumbuh kembang anak.
Menutup pembinaan, A Fikri menegaskan bahwa masa
depan bangsa dimulai dari ruang-ruang kecil RA. “Jika kita menanamkan nilai,
iman, dan karakter dengan benar sejak hari ini, maka kita sedang menyiapkan
generasi yang kuat, berakhlak, dan berperadaban di masa yang akan datang,”
pungkasnya.
Kontributor : Aep S.


.png)





.png)


.png)
.png)